Wednesday, May 30, 2018

tangis terakhir

sepuluh tahun telah berlalu
jerit tangis  memecah langit
saat ikatan kasih sayang terputus
diantara dua dunia yang berbeda

Hyang Nangka Beurit
lihatlah airmata yang mengalir ini
jadikanlah tangis terakhirku
di atas muka bumi ini

derita di sepanjang dasawarsa
menerjang bagai gelombang
silih berganti, menghantam
tak tertahankan menghancurkan

hidup compang camping
tak ada lagi tempat berteduh
hujan menemani airmata yang terjatuh
jerit tangis kepada alam semesta


Surat untuk Hyang Namgka Beurit.
Dengan hormat yang setinggi-tingginya dan terimakasih yang setinggi-tinggi nya kepada Hyang Nangka Beurit.
Hyang Nangka Beurit sampaikan salam hormat dan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada semua HYANG nu kolot di Tatar SUNDA.
ParaHyang.... kula tos cape hirup di dunya ieu. 
Tapi PATITAH paduka teu acan ka laksana, hampura.
Leres kedah sabar(saur Hyang Saka Domas), 
tabah dan tawakal(saur Hyang Maulana Malik Ibrahim), 
kedah kuat kawas jalma kulon (saur Hyang Prabu Kian San Tang).

Mung jadi jami mah geuning teu walakaya, teu daya upaya.
Kasakabeh Hyang anu aya di karaton Nagara Goib Tatar SUNda... tulungan kula, ieu ci rembay geus ngamban deui dina panon.
Teu aya manusa anu nyaah ka kula, aranjeun na mung nyaah ka............
Geuning upami aranjeunna terang kula teu gaduh ....... euleuh.... di hina teu di anggap jalmi.

Leres Hyang ayeuna jalmi-jalmi tos hilap ka ajaran luhung Hyang Prabu Siliwangi, TRI MULIA.
Silih Asih - Silih Asah  - Silih Asuh.
Geuning ayeuna mah jalmi -jalmi teh mung mikir "harta-tahta-wanita", kitu ceunah saurna teh.

Manusa nu hilap ka jatidiri.
Manusa anu teu areling, yen hirup di dunya ieu teh ngan ukur ziarah singkat, sakedeung.
Sakabeh manusa bakal ninggalkeun ragana, hartana, tahtana di dunya.

Manusa kudu mayar hutang nafas ka GUSTI nu di luhung.
Nerapkeun ajaran  Hyang Prabu Siliwangi tos jadi cara hirup jalmi Pasundan. 
Kang Cepot sering nyebut keun.... nulung ka nu butuh , nalang ka nu susah ngajait ka nu titeuleum.

Tapi manusa ayeuna mah bet araratoh ninggal dulur atanapi baraya teh susah, panto gancang di tulakan,

Ampun paralun GUSTI..... kula ngarasakeun .
saha atuh manusa nu nyaah ka kula, .......

Mung PARAHYANG nu mikanyaah ka kula.
Manusa-manusa wawuh oge sieuneun ku jalma teu boga mah.
Hirup numpang
cis teu gaduh
teu aya perhiasan emas atanapi inten nu nga gejreng
baju butut
sandal jepit
sarieunen ku jalma miskin!

Arek carita atanapi ngadongeng sareng saha???
Ah cuma ka PARAHYANG tiasa ngadu.....

Sampurasun.




Sunday, May 27, 2018

harta dan kekuasaan

kejahatan telah bersanding denga keserakahan
manusia penumpah darah penyembah berhala
demi "HARTA dan KEKUASAAN", mengotori bumi
bumi sudah tak layak lagi untuk manusia sejati hidup

bumi telah dibersihkanuntuk tempat manusia sejati
hidup manusia sejati rukun sejahtera di muka bumi
biarlah saat ini bumi hancur dan hancur
menumpas manusia penyembah berhala

manusia telah lupa kepada SANG MAHA PENCIPTA
harta dan kekuasaan merasuk ke dalam jiwa
lupa kepada TUHAN dan sesama
keserakahan untuk memiliki kekuasaan bumi ini

Ibu Bumi, Ibu Pertiwi, Ibu Tanah Air terhenyak
darah tertumpah di BUMI PERTIWI
cahaya kilat pemusnah berkelebat hebat
tanah menganga menelan kejahatan dan keserakah

tangis Ibu Pertiwi membasahi bumi
anugrah bagi manusia sejati
malapetaka neraka bagi manusia kejam dan serakah
tak ada lagi waktu untuk bertobat



Monday, May 21, 2018

BINTANG

Sampurasun Hyang Prabu Sangkuriang.
Telah kupetik beberapa bintang rekan-rekan
langit tetap gemerlap oleh cahaya bintang
bermilyar bintang di alam semesta

senyum Hyang Prabu Sangkuriang
dengan wajah yang lebih terang dari bintang
singgah dari jelajah alam semesta
bumi ini bagai sebuah batu kecil

binang-bintang di alam semesta bagai pasir di pantai
bagai kunang -kunang di pegunungan
Hyang Prabu Sangkuriang
kami akan selalu merindukanmu

Hung.... ahung...............
SItumang telah kembali ke kaHYANGan
telah meninggalkan hatinya di bumi
karena kasih sayang nya





Tuesday, May 8, 2018

bencana alam

alam semesta bergerak semarak berderai
air, udara api dan tanah jadi bencana
bergolak didalam perut bumi
memicu gunung berapi dan gempa

banjir, banjir bandang amarah air
longsor geliat gemulai tanah berserak
badai puting beliung senyum udara
api musnahkan apa saja yang ada

bumi hidup, alam semesta ini hidup
manusia ciptaan sempurna Maha Pencipta
terlalu sempurna untuk jahat dan serakah
lupa diri bahwa hidup di bumi yang fana

alam  dirusak dengan kejam, bencana datang menghujam
bumi semarak menuntut keadilan kepada Ibu Bumi
musnahlah segera manusia tamak serakah
alam semesta eksekutor pengadilan  terakhir




Thursday, May 3, 2018

ADIL

Sukabumi, Bantul Yogya,  Bogor, Banjarnegara, Kalibening,
Pati, Jepara, Karangasem, Bali, Lombok, Mataram dan Manado
berkejaran dengan waktu, bumi bergetar
waktu berlalu dengan gempa  yang susul meyusul

siapakah manusia yang tak gentar di saat bumi bergetar
bumi bergoyang, tanah menyerakkan segala yang ada
diiringi hujan deras memicu longsor dan banjir
di manakah manusia akan bersembunyi??

tak ada tempat bersembunyi di bumi ini
saat Ibu Pertiwi menghunus pedang keadilan
hutang nyawa dan darah terbayar sudah
untuk setiap tetes keringat dan darah

semua telah diperhitungkan dengan adil
tetes keringat dan darah umat manusia
tercatat dalam catatan Sang Ratu Adil
Yang telah turun ke bumi demi keadilan



Tuesday, May 1, 2018

adat

manusia telah lupa pada adat
tak sedikit menjadi manusia biadab
beradab telah hilang pada diri
manusia liar melebihi binatang
setan telah berwujud manusia
yang tidak mengenal budi pekerti 

manusia malu dan berpakaian
menganggap diri beradab dan beriman
hati bertopeng oleh baju
telanjanglah itu leih baik
jujurlah kepada diri sendiri
buanglah dogma dan dokrin

manusia janganlah malu kepada sesama
tapi malu lah kepada diri sendiri
dekatkanlah diri dan berkenalan
mengkaji diri lebih baik dan telanjanglah
ingatlah akan adat budaya asal
jangan meraih kesempatan sesaat



ibu pertiwi

ibu pertiwi, hapuslah airmatamu
jangan simpan duka di hatimu
hujan deras tercurah hebat saat ibu menangis
banjir bandang menerjang saat ibu geram

ibu pertiwi tersenyumlah
sehangat mentari pagi senyummu
senyummu membuat alam berseri
tawamu membuat damai  sejahtera

ibu pertiwi jangan simpan duka di hatimu
ibu pertiwi telah membersihkan bumi ini
langit putih laut biru dan hijaunya pengunungan
membuat manusia hidup damai sejahtera

ibu pertiwi beristirahatlah
di bumi tempat manusia beradab
buanglah ke neraka manusia biadab
agar tak ada darah tertumpah di bumi pertiwi

Indonesia berduka

banjir, banjir bandang  dan badai
longsor dan gempa bumi
puting beliung dan badai
bencana datang silih berganti

ada apakah ibu pertiwi
gelisah kah bumi ini
air tanah udara dan api
bersatu membuat ngeri

Indonesia ku sedang berduka
hati ibu pertiwi yang terluka
ulah segelintir manusia
membawa duka nestapa

ibu pertiwi yang sedang menangis
airmata nya tercurah deras di bumi
membuat derita dan sengsara
angin berhembus membawa berita

kepada tanah air, api berseru
berita duka dalam angin dan badai
ibu pertiwi hapuslah airmatamu
janganlah engkau berduka